Istilah poros maritim atau meminjam ucapan Soekarno, Mercusuar Dunia, yang merujuk pada penguasaan maritim saat ia menerbitkan dekrit presiden pada 57 tahun silam, sebetulnya sudah dikenal bahkan ketika negara ini belum bernama Indonesia.
Kesadaran akan limpahan alam yang hampir sebagian besar berupa air dan dikuatkan jejak sejarah sebagai negara maritim inilah yang kemudian membuat Sri Tutie Rahayu tergerak mendirikan sekolah khusus sebagai kawah candradimuka para pengarung lautan yang tak kalah handal, bernama Politeknik Maritim Indonesia Semarang atau disingkat Polimarin.
Padahal, anak purnawirawan Angkatan Darat (AD) ini nyaris tak begitu mengenal dunia kemaritiman. Perempuan kelahiran Semarang, 4 Januari 1960, ini berkisah, perjalanannya dimulai ketika selepas lulus dari jurusan Administrasi Negara Unversitas Diponegoro (Undip) Semarang, tahun 1986, dia diterima menjadi dosen di Akademi Pelayaran Niaga Indonesia Semarang.
Di tahun yang sama, ia diangkat sebagai ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). Dari situ, dia banyak melakukan kajian tentang kemaritiman, terutama dari segi bisnis. “Jadi, begitu lulus daftar di Kopertis (Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta) sebagai dosen, ditempatkan di Akpelni kemudian disitu saya mulai banyak bersinggungan dengan dunia kemaritiman,” ucapnya.
Intensitas bergumul di dunia maritim semakin besar ketia dia diangkat menjadi Pembantu Dekan (PD) III. Timbul di benaknya keprihatinan melihat banyak anak didik di perguruan tinggi swasta yang sulit mengikuti ujian akhir pendidikan. Dari situ, terpikirlah pentingnya sekolah maritim bermartabat dengan komitmen terhadap pendidikan yang mampu memfasilitasi hambatan tersebut.





Leave a Reply